 | Tentang Blog Ini | Nov 22, 2007 |
Bulan Sabit Di Balik Layar adalah catatan dan foto proses dokumenter "Crescent Moon Over The Sea" [Dir. Yuli Andari | 63 mins | 2007]. Naskah dokumenter ini telah diikutkan dalam Jiffest Script Development Competition 2006 dan memenangkan dana produksi dari Jan Vrijman Fund untuk kategori dokumenter pendek. Dokumenter ini diproduksi oleh Benang Merah Production.
 | Category: | Movies | | Genre: | Documentary |
Arif sedang mengepak pakaian di depan lemari, wajahnya terlihat murung. Makkadia bertanya berapa kebutuhan uang untuk biaya sekolah di Mataram. Arif menjawab dengan malas. Bersamaan dengan itu seorang perempuan datang ke rumah mereka untuk mengambil panah ikan yang dibuat oleh Makkadia membuat lelaki itu senang sebab ada tambahan uang untuk biaya Arif ke Mataram dari hasil pembayaran panah ikan itu. Lalu bapak dan anak itu duduk berhadapan, Makkadia mengangsurkan uang sejumlah 270 ribu rupiah, sementara Arif butuh 300 ribu rupiah. Ayahnya mengatakan kalau dia sudah pernah mengirim 200 ribu rupiah tetapi menurut Arif belum diterimanya. Masih dengan wajah murung Arif menerima uang itu dan pergi ke Mataram.
Itulah bagian yang dipilih Yuli Andari menjadi pembuka Crescent Moon Over the Sea, film dokumenternya yang tahun 2006 menjadi pemenang jiFFest script development kategori dokumenter dan ditayangkan untuk pertamakali di jiFFest ke 9 tanggal 9 Desember 2007. Dokumenter ini bercerita tentang kehidupan Makkadia dengan lima anaknya yaitu Arif, Jon, Ani, Rifai dan Khairman. Mereka adalah sebuah keluarga nelayan di pulau Bungin, sebuah pulau yang terbentuk dari batu karang yang disusun begitu rupa menjadi daratan yang sedang menghadapi perubahan setelah ada jalan yang menghubungkan pulau itu dengan pulau Sumbawa.
Selama 63 menit, dokumenter ini perlahan mengupas kehidupan masing-masing anggota keluarga dan relasi antar mereka. Khairman dan Jon yang bekerja sebagai nelayan tradisional mengikuti jejak Makkadia, sedang menghadapi persoalan berkurangnya tangkapan ikan dan harus berhadapan dengan nelayan dari pulau lain yang menggunakan bom untuk menangkap ikan. Rifai sedang mempersiapkan kampanye sehubungan dengan pencalonan dirinya menjadi kepala dusun pulau Bungin dan harus berhadapan dengan tujuh calon lain. Arif yang murung dan gelisah sebab takut tidak lulus dari sekolah. Ani sebagai ibu rumah tangga dan Makkadia sebagai bapak yang juga pemegang bendera warisan leluhur mereka sebagai suku Bajo harus berhadapan dengan perubahan yang sedang terjadi di pulau itu.
Saya menikmati dokumenter ini sebab dia tidak mencoba pretensius berbicara tentang ide-ide besar dengan statemen-statemen yang bombastis dan provokatif. Kita justru diajak untuk melihat perubahan yang terjadi di pulau Bungin setelah ada jalan darat yang menghubungkan pulau itu dengan pulau Sumbawa melalui fragmen-fragmen kehidupan sehari-hari keluarga Makkadia. Fragmen-fragmen itulah yang dijahit begitu rupa menjadi sebuah cerita yang enak untuk diikuti meskipun sebenarnya hubungan antar fragmen masih lemah. Barangkali dokumenter ini akan lebih terasa intens kalau fokus pada hubungan antara Makkadia dengan Arif saja sebab dari keenam karakter yang muncul, hubungan bapak anak itulah yang mendominasi dokumenter ini. Arif juga yang menjadi perekat antar anggota keluarga ini seperti yang tergambar pada bagian ketika dia sakit, juga pada bagian ketika seluruh anggota keluarga berkumpul untuk membantunya memutuskan apa yang sebaiknya dilakukan setelah lulus sekolah. Selain karena hubungan antar fragmen yang lemah itu, penonton dituntut untuk jeli dan memperhatikan detil dialog dan gestur sebab dokumenter ini memang dibuat dengan gaya cinema verity, jadi penonton tidak akan diarahkan dengan wawancara.
Yang menjadi persoalan dalam dokumenter ini adalah sinematografinya. Selain gambar lanskap, hampir semua gambar bergerak tanpa motivasi yang jelas apalagi ketika merekam dialog yang terjadi antar subjek, gambar berpindah dengan ragu-ragu, sepertinya penata kamera masih bingung untuk memutuskan kapan memindahkan arah kamera dari satu subjek ke subjek lain yang sedang berdialog. Keragu-raguan itu membuat banyak gambar subjek yang terpotong wajah atau kepalanya. Gambar yang kebanyakan medium close up dan close up juga agak mengganggu sebab kita jadi jarang melihat sebuah situasi secara utuh. Tentu saja membuat gambar-gambar seperti itu tidak salah tetapi penonton juga sebaiknya diberi tawaran untuk sekedar menghela nafas setelah disuguhi rentetan gambar-gambar padat dan terus bergerak tanpa motivasi yang membuat lelah. Gambar close up juga bisa terkesan menggurui dan pada kasus tertentu terasa menjadi eksploitasi, tetapi juga bisa menjadi gambaran kedekatan antara filmmaker dengan subjeknya yang terlihat pada beberapa bagian dan menjadi kunci sukses dokumenter ini. Meskipun begitu, saya memberi kredit pada keberanian Andari mempercayakan dokumenternya direkam oleh Ovan Rinaldi yang baru pertama kali menjadi penata kamera film dokumenter, barangkali Andari mempunyai alasan tersendiri dengan keputusannya itu.
Saya menonton rough cut film ini bulan Oktober 2007, malam sebelum saya harus pulang ke Aceh untuk merayakan Lebaran, salah satu kegiatan yang tidak saya sukai sebab harus bertemu dengan bapak yang dengannya saya tidak pernah dekat. Tetapi malam itu, setelah menonton Crescent Moon Over the Sea, saya jadi melihat bapak dengan cara yang lain dan untuk pertama kali saya mudik Lebaran tanpa beban untuk ketemu bapak. Dan bagi saya, sebuah dokumenter yang berhasil adalah ketika dokumenter itu tidak hanya informatif dan menawarkan cara pandang yang baru tetapi juga bisa merubah cara pandang orang terhadap sesuatu.
Shalahuddin Siregar -sutradara dokumenter-

|  | Beberapa frame dalam dokumenter ini dibikin e-postcard dan didesain oleh seorang teman yang baik hati, Shalahuddin Siregar :-) |
Tahun 2003, jalan perintis dibangun untuk menghubungkan Bungin, sebuah pulau kecil yang terisolasi dengan kota yang lebih maju. Dampaknya adalah perubahan yang cukup signifikan pada sarana transportasi dan persepsi masyarakat tentang nilai-nilai kemajuan. Sebuah keluarga nelayan Bajo berada dalam dilema antara meneruskan nilai-nilai tradisional atau ikut arus perubahan yang begitu cepat. Pentingkah tradisi dipertahankan? Dimanakah peranan ikatan kekeluargaan ketika semuanya berada di persimpangan?
Download this and other original video files with Multiply Premium.
 | Category: | Movies | | Genre: | Documentary |
Saya belum nonton filmnya hehehe...tapi dah melihat beberapa stock adegan yang diambil di Bungin. Ketika melihat beberapa adegan dalam dokumenter ini, saya jadi tahu kondisi masyarakat Sumbawa dalam sinema. Saya kira film-nya bakal bagus...hehehe. Apalagi Andari sudah pernah bikin Joki Kecil yang menang di Eagle Award 2005 itu...
--teman SMA Andari via email pribadi-- 03 Des 2007 
| Start: | Dec 9, '07 7:30p | | End: | Dec 9, '07 9:00p | | Location: | Djakarta Theater Studio 3 |
Crescent Moon over the Sea By Yuli Andari Merdikaningtyas INDONESIA. 2007. Documentary. 63 Min. Color. Video. Bajo/Indonesia (with English subtitle) Tahun 2003, jalan perintis dibangun untuk menghubungkan Bungin, sebuah pulau kecil yang terisolasi dengan kota yang lebih maju. Dampaknya adalah perubahan yang cukup signifikan: sarana transportasi dan persepsi masyarakat tentang nilai-nilai kemajuan. Sebuah keluarga nelayan Bajo berada dalam dilema antara meneruskan nilai-nilai tradisional atau ikut arus perubahan yang begitu cepat. CMOS team: Yuli Andari Merdikaningtyas (director) / Opan Rinaldi (camera person) / Aline (editor) / Tonny Trimarsanto (post-production supervisor) This documentary is developed in JAN VRIJMAN FUND - JIFFEST SCRIPT DEVELOPMENT WORKSHOP 2006
 Siang terik dengan gang-gang sempit yang berdebu menemani perjalanan saya menyusuri perkampungan orang Bajo di Pulau Bungin. Hanya ada satu gang utama di pulau ini. Saya menyebutnya gang karena terlalu kecil untuk disebut sebagai jalan utama. Pada siang hari, kampung yang dibangun dari tumpukan karang ini hanya dipenuhi oleh para perempuan, anak-anak dan lelaki lansia yang sudah tak diizinkan berlayar oleh keluarganya. November 2006 adalah kali ketiga saya ke Bungin. Misi saya: mengadakan penelitian sekaligus mendokumentasikannya menjadi sebuah buku. Ck…ck…ck… Kali ini saya datang bersama Opan Rinaldi, seorang teman yang dengan sukarela membantu saya memotret. Daftar kontak yang saya cari: Akhmad Rifai, tokoh pemuda Bungin yang menjadi narasumber saya pada saat riset tahun 2003.
Datang lagi ke Bungin bukan berarti saya mengingat kembali gang-gang sempit itu. Namun justru saya sama sekali tak mengingat arah menuju rumah narasumber saya. Padahal Opan sangat bergantung pada saya. Jadilah beberapa saat kami mondar-mandir di kampung orang. Kami hanya mengikuti gang utama di pulau tersebut. Akhirnya ketika tepat berada di depan rumah bercat biru, jurus pamungkas saya keluarkan:
“Permisi, Kak. Saya mencari rumah Pak Akhmad Rifai, apakah Kakak tahu dimana rumahnya?” tanya saya pada seorang perempuan muda yang sedang menyisir rambutnya yang basah di bawah kolong rumah. Tampaknya perempuan itu baru saja habis mandi.
“Maaf, Kakak berdua dari mana? Wartawan ya,” perempuan itu balik bertanya setelah melihat kami membawa tas ransel besar, notes, dan kamera foto.
“Ehm, kami bukan wartawan. Kami dari Sumbawa Besar, ingin bertemu dan wawancara dengan Pak Akhmad Rifai. Kenal dengan Pak Rifai?” ujar saya mencoba menjawab pertanyaannya.
“Kak Rifai adalah kakak tertua saya.Tunggulah sebentar, Kak. Saya bisa antarkan Kakak berdua kesana,” ujarnya sambil buru-buru naik ke rumah panggung.
Wah, ini kebetulan yang menyenangkan. Bisa jadi ini awal yang bagus buat misi saya. Saya merasa Tuhan memberi jalan yang lancar pada kami hari ini.
“Ando…kapenje kau--Bajo: mau kemana kamu--?…” teriak seorang lelaki tua dari atas rumah.
“Ke rumah Kak Rifai…” jawab Ando, juga berteriak.
“Fai, baru pergi ke Alas, siapa yang mencarinya?” tanya lelaki itu lagi.
“Orang dari Sumbawa,” jawab Ando.
Maka, Ando mengajak kami beristirahat sejenak di rumahnya. Ia berjanji akan mengantar kami ke rumah kakaknya bila Rifai telah kembali. Akhirnya kami naik ke rumah panggung itu. Sebagai bahan obrolan, saya menceritakan kepada Ando bahwa saya telah tiga kali ke Bungin. Kemudian saya menunjukkan sebuah artikel pendek sebagai catatan kunjungan saya pada tahun 2003. Saya pernah berjanji pada Pak Rifai akan memberikan tulisan saya tentang Bungin apabila saya kembali. Tanpa diduga, Ando memanggil ayahnya. Lalu lelaki berumur 74 tahun yang sedang mengasah parang di dapur itu datang menemui kami. Hanya bersalaman lalu ia kembali masuk membasuh tangannya dan mengganti pakaiannya. Rupanya ia berniat berganti pakaian dan menemui kami kembali dengan pakaian rapi. Ia memakai sarung, songkok, dan baju batik. Saat itu, perasaan saya mengatakan sebuah awal yang bagus untuk interaksi selanjutnya. Meski saya telah beberapa kali ke pulau ini, namun saya selalu nervous. Semacam akan memulai sesuatu yang baru seperti pada saat mulai membuka topik obrolan baru kala itu.
“Nama saya Makkadia bin Haji Muhammad Sagat.” Uwak Makka, begitu saya memanggilnya, ternyata menawarkan keramahan yang membuat saya seketika menjadi tenang. Ketika kami bersalaman, saya merasa beliaulah narasumber yang saya cari: terbuka, artikulatif, dan sangat menguasai topik yang ingin saya selami: sejarah orang Bajo di Bungin.
Berdasarkan silsilah keluarga, Makkadia adalah keturunan kelima Panglima Mayu, orang yang membawa bendera suku yang menandakan identitas Bajo ketika mereka bermigrasi. God, sungguh beruntungnya saya. Akhirnya saya menemukan narasumber penting yang saya cari sejak tahun 2003. Rifai memang pernah memberikan keterangan yang cukup lengkap soal Bungin, namun ia masih takut memberikan informasi secara detil soal sejarah asal-usul orang Bajo di Bungin. Rifai berjanji pada saya, apabila saya datang lagi ke Bungin, saya akan diajaknya menemui ayahnya, yang pada saat itu sedang dalam proses pengobatan maag yang akut di Mataram.
Horst H. Liebner dalam tulisan hasil penelitiannya yang berjudul “Empat Versi Lisan Leluhur Orang Bajo di Selayar Selatan” mengemukakan bahwa orang Bajo yang tidak mengetahui cerita leluhur mereka tetapi mengklaim diri sebagai orang Bajo dapat disebut sebagai Bajo-Bajo (orang Bajo palsu). Liebner menyebutkan bahwa meski semua orang Bajo bisa berbahasa Bajo, namun tidak semua orang Bajo mengerti cerita leluhur mereka. Selain itu, tanda ‘ke-Bajo-an’ lain juga berupa kepemilikan naskah lontara yang memuat cerita dan silsilah keluarga. Sedangkan identitas ‘ke-Bajo-an’ asli yang lebih penting dari cerita leluhur dan silsilah keluarga berupa bendera yang disebut ula-ula dalam bahasa Bajo. Liebner menyebutkan bahwa ula-ula memainkan peranan penting pada komunitas Bajo. Bendera inilah sebagai penentu identitas yang tentu saja berkaitan erat dengan cerita leluhur, setara dengan kepemilikan lontara yang memuat silsilah keluarga.
Cerita tentang sejarah Bungin terkemas dalam obrolan yang menyenangkan. Pertama, obrolan kami ditemani dengan secangkir teh panas dan sisa kue lebaran. Bla...bla...bla...Kemudian, adzan dzuhur tetapi obrolan terus saja mengalir. Lalu obrolan harus ditunda karena acara penting (ini istilah Uwak Makka) yaitu makan siang. Nasi panas, sayur daun kelor, dan ikan oras goreng plus sambal menjadi tanda perkenalan kami dengan keluarga Makkadia.
*berdasarkan fieldnotes November 2006

|  | Bagi para lelaki Bajo di Bungin, laut surut adalah kesempatan untuk memperbaiki dan merawat perahu. Bagi kaum perempuan, laut surut adalah kesempatan untuk menambah ragam makanan keluarga dengan cara mencari kerang, kepiting, tripang, dan siput laut. Sedangkan bagi saya, laut surut adalah saat rekreasi: ikut cari kerang, jalan-jalan (jangan sampai menginjak bulu babi aja...perih kakinya hehehe!, dan kalau beruntung dapat menikmati pelangi... |
 Apa yang melekatkan diri kita pada leluhur?
Terakhir kali saya berziarah ke makam leluhur pada bulan Juli 2007. Ada empat makam yang selalu saya bersihkan dan setelah itu saya taburi dengan bunga, yaitu: makam kakek, nenek, saudara perempuan kakek, dan saudara tiri ibu saja. Merekalah yang menjadi alasan utama saya berziarah kubur apabila saya berada di Sumbawa. Sebenarnya di komplek pemakaman belakang Mesjid Nurul Huda, Sumbawa, terbaring dengan tenang leluhur-leluhur saya lainnya seperti ayah dan ibu kakek saya, ayah dan ibu nenek saya, juga saudara-saudara kakek dan nenek. Namun, entahlah...jarang sekali saya membersihkan makam mereka, apalagi menaburinya dengan bunga. Saya tidak mengenal kakek saya secara fisik. Setahun sebelum saya lahir, kakek meninggal. Namun dari cerita ibu dan dari foto tua yang masih tersisa, saya mengenalnya dan secara tidak langsung melekatkan emosi saya padanya, pada makam itu. Pada suatu hari, saya memimpikan nenek--yang juga sudah meninggal--dan bertanya padanya seperti apakah sosok dan sifat kakek. Ketika saya terbangun, saya merasakan ada semacam kerinduan yang amat sangat padanya, meskipun saya tak pernah digendong olehnya. Saya jadi berpikir, alangkah kuat cerita ibu dan nenek saya tentangnya, sehingga hampir 30 tahun wafatnya saya masih mengingat bahkan merindukan sosoknya.
Meskipun ayah saya kelahiran Blitar, namun bisa dikatakan Sumbawa adalah kampung halamannya yang kedua. Ayah saya merantau ke Sumbawa pada tahun 1969 sebagai guru Bahasa Indonesia di seluruh SMA di Sumbawa Besar pada saat itu. Lalu, pada tahun 1974, ayah menikahi ibu saya dan memutuskan untuk menetap di Sumbawa. Ayah saya jarang sekali pulang ke kampung halamannya. Dari cerita ayah, kakek dan nenek saya pernah merantau ke Makassar, Kupang, Jakarta, Magelang, dan Yogyakarta. Setelah Indonesia merdeka, mereka menetap di Blitar, kampung halaman kakek saya. Kakek dan nenek saya meninggal sejak ayah masih kecil. Kata ayah, beliau jarang pulang ke Blitar karena tak ada lagi sosok yang wajib disungkemi kala lebaran. Karena ayah jarang pulang, otomatis saya baru mengunjungi makam kakek dan nenek saya pada November 2005, saat lebaran. Makam yang sederhana, namun saya menangis di pusaranya. Saya baru mengenal jejak kakek dan nenek yang menjadi leluhur saya di Blitar saat usia saya telah 25 tahun. Sungguh terlambat. Kini, meski saya tak bisa tiap tahun berziarah ke makam leluhur saya ini. Saya berjanji suatu saat akan mengenangnya dengan cara saya sendiri...
Dua cerita tentang leluhur saya di atas sengaja saya tuliskan di sini. Saat saya mengamati kembali beberapa still photo (lihat: photo/ziarah pada leluhur) dalam dokumenter CMOS, saya jadi terkenang pada leluhur saya. Dan alangkah tidak adilnya apabila saya juga tak menceritakan tentang foto-foto tersebut:
Pada saat produksi dokumenter, Juni 2007, saya mengikuti narasumber saya yang berziarah di makam leluhurnya yang juga merupakan leluhur orang Bungin. Komunitas orang Bajo di pulau ini berawal dari seorang bernama Panglima Mayu, yang berlayar dari Selayar bersama keluarganya. Di tengah perjalanan, mereka singgah di bongkahan karang yang diselimuti pasir putih. Panglima Mayu dan keluarga serta beberapa pengikutnya kemudian menetap di bubungin itu lalu beranak pinak dan membentuk komunitas orang Bajo di pulau Bungin, Sumbawa. Makam yang dikunjungi oleh Pak Makkadia, adalah makam ayah, kakek, dan buyutnya, keturunan kedua, ketiga, dan keempat Panglima Mayu. Saya kagum, karena narasumber saya ini masih mengingat dengan detil makam para leluhurnya ini. Ia berziarah ke makam leluhur bersama Anti, cucu perempuannya. Ia menunjukkan dan bercerita kepada Anti tentang makam-makam leluhur tersebut. Meski lokasinya berbeda dan pemakaman yang tertua terletak di atas bukit yang cukup jauh di dekat laut, Makkadia dengan semangat berjalan kaki hampir 2 km, dengan medan yang tidak datar. Meskipun makam Mayu sampai saat ini tidak diketahui dengan pasti--ada yang mengatakan bahwa makamnya berada di Makam Sampar, komplek pemakaman tertua di Sumbawa, tempat peristirahatan terakhir raja-raja Sumbawa--namun bagi Makkadia dan juga orang Bungin pada umumnya, kenangan tentang leluhur ini terus melekat, menjadi mitos, melegenda, dan menjadi bahan tuturan bagi generasi berikutnya.***

|  | "Orang Asing dengan Pekerjaan Profesional" begitu istilah yang kami pakai ketika memulai proses produksi dokumenter ini. Yang kami lakukan sepanjang hari adalah berinteraksi, mengamati, dan terus bertanya. Namun setelah 100 hari hidup bersama, kami merasa bukan seperti orang lain lagi. Kami makan, mandi, bahkan buang air dengan cara mereka. Tapi, terlalu dini untuk mengganggap diri kami adalah mereka. Proses ini ditambah dengan translasi dan editing yang dilakukan di Sumbawa dan Yogyakarta. Hasilnya: kita saksikan bersama pada Premier Crescent Moon Over The Sea. Silakan cek kalender event dalam blog ini. |
 | Piknik | Oct 30, '07 4:39 PM for everyone |
|  | Everyday is Sunday in Bungin. Hehehe kata-katanya memang nyontek abis. Tapi memang seperti itulah yang terjadi ketika aku produksi dokumenter di pulau bulan sabit. Setiap hari selalu ada hal menarik yang aku jumpai: bertemu dan berbicara dengan orang-orang, makan-makan di pulau, tangkap ikan, dan shooting tentu saja. Hmmm...seandainya bisa piknik tiap hari hehehe |
|  | Tahun 2007 bisa jadi merupakan tahun penting dalam sejarah politik lokal di Bungin. Bila tahun-tahun sebelumnya pesta demokrasi tingkat desa ini diramaikan paling banyak dua calon, maka tahun ini diramaikan oleh 7 calon kades. Diantara para calon ini, ada yang mantan kades, aparat desa, dan tokoh pemuda Bungin. Menjadi kepala desa dianggap sebuah amanat, tanggung jawab sekaligus prestise yang besar bagi setiap warga Bungin. |
|  | pagi datang lagi di perkampungan nelayan yang sunyi bau uap garam dan lambaian ilalang menyertai sang mentari yang meninggi |
|  | kapan kudengar lagi tawa riang anak-anak itu depan rumah, terhampar laut biru langkah-langkah kecil meniti pematang bambu oh, alangkah bahagia melihat keriangan itu kembali |
 Bertahan hidup di pulau karang yang sempit, tandus dan jauh dari sumber air tawar tak membuat mereka menjadi lemah. Para perempuan pulau Bungin setiap hari mendayung perahu mereka untuk mengambil air tawar. Satu-satunya sumber air tawar untuk mencukupi kebutuhan masyarakat pulau Bungin berada di pantai pulau Sumbawa, berupa sebuah buin [Sumb.=mata air dalam sumur kecil] yang sepanjang tahun tak pernah kering. Di sanalah mereka menggantungkan kebutuhan air tawar setiap harinya.
Daerah di sekitar sumur itu merupakan pantai yang telah mengalami abrasi. Setiap tahunnya air laut mengikis pantai karena tak ada lagi hutan bakau. Melihat hal tersebut, Siti Aminah, perempuan dari Labuhan Mapin, Alas, bersama rekannya Pak Iskandar berinisiatif untuk mulai menghijaukan pantai tersebut. Awalnya, tak mudah menyadarkan masyarakat tentang pentingnya penanaman bakau di pantai. Namun, ketika pucuk-pucuk muda pohon bakau mulai muncul, warga pesisir pantai mulai percaya bahwa menanam bakau untuk menghijaukan pantai tidaklah sia-sia. Usaha yang dirintis Aminah dan Iskandar kemudian diteruskan oleh warga pesisir pantai termasuk warga pulau Kaung yang juga mengalami permasalahan yang sama yaitu abrasi pantai. Mereka sadar bahwa bukan hanya laut yang memberi mereka kehidupan, namun mereka pun berkewajiban menyelamatkan ‘ibu’ mereka.
Kecintaan mereka pada laut pernah teruji pada tahun 1978 ketika tsunami melanda pesisir selatan pulau Sumbawa. Saat itu, Hasan Usman, bupati Kabupaten Sumbawa, menyerukan agar seluruh warga pulau Bungin segera melakukan transmigrasi ke Pulau Sumbawa. Rupanya, Pak Bupati takut kalau pulau kecil itu tenggelam. Namun, masyarakat Bungin menolak dengan alasan mereka telah menyatu dengan laut. Menurut Ahmad Rivai, orang Bajo percaya bahwa orang laut tak akan menetap di daratan, mereka hanya singgah. Mereka percaya bahwa mereka adalah keturunan pelaut ulung. “Laut adalah hidup kami. Para leluhur kami selalu melindungi pulau ini. Bila tengah malam, kami sering mendengar derap kaki kuda mengelilingi pulau ini. Dan kami percaya, itu leluhur kami yang sedang menjaga kami,” ujarnya.
*kepingan catatan tahun 2003

 Tak terlalu susah menemukan rumah seseorang di pulau ini. Asal kita tak malu bertanya dan jeli menyebutkan ciri-ciri atau gelar yang disandangnya. Lebih mudah lagi kalau dia sudah atau akan naik haji. Menunaikan rukun islam yang kelima tersebut adalah cita-cita termulia setiap orang di pulau. Hubungan kekerabatan yang dekat sebagai orang yang merantau membuat mereka akrab satu sama lain. Ketika saya menyebutkan satu nama dan mendeskripsikan ciri-cirinya, mereka menunjukkan rumah panggung yang terletak di samping mesjid kecil. “Pak Abu yang akan naik haji itu ‘kan? Rumahnya di dekat mesjid itu,” kata mereka.
Mendekati rumah panggung bercat hijau dan berjendela lebar itu, terdengar sayup-sayup suara anak-anak mengaji. Diselingi dengan suara guru mereka yang menyontohkan bacaan tajwid Al-Qur’an yang benar. Saya meniti anak tangga rumah panggung yang berjumlah 10 buah itu dengan hati-hati. Cukup tinggi dengan jarak antar anak tangga 20 cm. Saya mengucapkan salam dan menunggu Pak Abu selesai mengajar ngaji. Segelas teh hangat disuguhkan isteri Pak Abu yang menemani saya ngobrol.
Hampir setengah jam saya menunggu, segelas teh hangat pun hampir tandas. Matahari semakin terik dan semilir angin laut membawa aroma garam. Tak berapa lama kemudian, terdengar kalimat penutup bacaan Al-Qur’an, yang menandakan pengajian siang itu telah usai. Anak-anak lelaki dan perempuan, masih dalam mukena dan kopiah mereka, berebut menyalami Pak Abu. Tak lupa udztad yang akan naik haji tersebut mengingatkan mereka agar datang kembali keesokan harinya.
Pekerjaan utama Pak Abu adalah nelayan. Biasanya ia pergi mencari ikan pada malam hari dan pulang membawa hasil tangkapannya bila subuh menjelang. Cara tradisional itu biasa dilakukannya bersama nelayan lain. Mereka mengarungi lautan secara berkelompok—satu kelompok biasanya terdiri dari 4 – 5 orang—menebar jala dan membagi rata ikan yang mereka dapatkan. “Ikan-ikan itu ibarat tabungan bagi kami. Bila kami memakai bom, maka bibit-bibitnya akan mati dan tabungan kami juga sia-sia,” ujar Pak Abu. Ikan-ikan hasil tangkapan mereka setiap hari dijual ke pasar dan sebagian dikonsumsi. Hasil tangkapan mereka tak menentu setiap hari. Hal ini tentu saja mempengaruhi mata pencaharian mereka per hari. Bila laut sedang bersahabat, maka ikan kerapu, ikan bawal, teripang dan udang memenuhi perahu mereka.
Pendapatan yang tidak menentu setiap harinya membuat para nelayan di pulau Bungin mencari cara lain untuk meningkatkan penghasilan. Saat ini, Pak Abu dan beberapa nelayan lainnya tengah berusaha membudidayakan ikan dalam keramba. Dalam jangka waktu beberapa bulan atau sampai setahun, ikan dalam keramba dapat dipanen. Hasilnya jauh lebih memuaskan. Pemasarannya pun tak susah karena ada saja cukong ikan yang mau membelinya. Biasanya, para nelayan menjual langsung kepada sang cukong. Kebutuhan ikan segar kebanyakan datang dari Bali dan Jawa. Pak Abu pernah mendapat keuntungan 30 juta rupiah dari hasil panen kerambanya. Uang tersebut kini dia tabung untuk naik haji. Dengan uang sebanyak itu, tentu Pak Abu tak perlu khawatir lagi. Untuk mengisi waktu luangnya itu, ia mengajari anak-anak mengaji. “Hitung-hitung sebagai persiapan saya naik haji,” katanya.
***

 Bungin, nama pulau itu, berasal dari kata ‘bubungin’ yang dalam bahasa Bajo berarti gumpalan pasir putih di tengah laut yang berbentuk bulan sabit. Tak ada yang tahu pasti kapan tepatnya nenek moyang suku Bajo mendiami pulau ini. Namun, menurut Ahmad Rivai, salah seorang tokoh masyarakat Bajo, ayahnya sering bercerita bahwa nenek moyang mereka ‘menyinggahi’ pulau ini tak lama setelah ‘zaman ujan au’ (zaman hujan abu). Istilah ‘zaman ujan au’ merupakan deskripsi dari letusan gunung Tambora pada tahun 1815. Letusan gunung itu demikian kuatnya sampai memuntahkan debu, lahar panas dan gelombang tsunami yang dahsyat. Saking dahsyatnya, hingga dua kerajaan yang ada pada masa itu yaitu Kerajaan Tambora dan Pekat musnah. Bila hal itu benar, maka suku Bajo telah ‘menyinggahi dan menempati’ pulau ini lebih dari seabad yang lampau. Namun ada sumber lain yang mengatakan bahwa suku Bajo telah ‘menempati’ pulau ini jauh sebelum gunung Tambora meletus.
Dulunya, pulau ini hanya berupa bongkahan batu karang berbentuk bulan sabit yang di atasnya terdapat pasir yang telah memadat. Konon katanya, ketika mengarungi selat Alas, nenek moyang suku Bajo singgah di atas karang pasir itu untuk beristirahat. Karena setiap kali melayari selat Alas mereka selalu singgah, kemudian mereka memutuskan untuk ‘membangun’ karang itu menjadi ‘pulau’ baru untuk pemukiman. Mulailah mereka ‘membangun’ karang itu menjadi pulau. Sampai saat ini bila memperluas pulau, mereka mencari batu karang yang telah mati dan tertimbun di laut. Caranya, mereka menyelam ke dasar laut dan menggali batu karang mati yang telah tertimbun. Mengambil dan merusak terumbu karang merupakan pantangan bagi mereka karena terumbu karang merupakan ‘rumah’ bagi ikan. Kearifan ekologi yang diajarkan turun temurun tersebut mengatakan bahwa bila rumah ikan telah dihancurkan, maka ikan pun akan mati. Dengan demikian, mereka telah merusak laut yang telah memberi mereka kehidupan.
Batu karang yang telah mati itu kemudian disusun dan ditimbun dengan pasir. Pulau yang dulunya kecil dan berbentuk bulan sabit itu, perlahan-lahan semakin luas seiring dengan bertambanhnya jumlah penduduk. “Setiap tahun pulau ini bertambah seluas 2 are,” ujar Rivai. Bertambahnya penduduk, mengakibatkan lahan semakin sempit. Untuk mengatasinya, mereka sepakat bahwa apabila ada pasangan yang akan menikah harus ‘membuat’ lahan seluas 15 x 9 meter persegi untuk ‘tanah’ rumah mereka. Saat ini, batu karang untuk ‘lahan’ baru tidak lagi didapatkan sesulit dulu karena sekarang dapat dibeli. Namun harganya masih tergolong mahal yaitu 1 meter kubik harganya 25 ribu rupiah. “Kalau di pulau Sumbawa mungkin orang membeli tanah, maka kami membeli batu karang, kemudian bergotong royong membangunnya menjadi lahan,” sambung Rivai.
Model rumah yang mereka bangun adalah rumah panggung, dengan tiang-tiang penyangga yang tinggi dan jendela yang lebar. Model rumah ini dianggap ideal karena bila air sedang pasang, mereka tidak kebanjiran. Selain itu membangun rumah dari bahan kayu tidak banyak menghabiskan biaya dan mudah dalam proses pengangkutan bahan materialnya. Jarak antara rumah satu dengan lainnya sangat rapat. Sehingga jarang sekali ada rumah yang memiliki pekarangan. Sempitnya lahan di pulau itu juga menyebabkan kasus sengketa tanah menjadi kasus dengan persentase tertinggi yang kerap terjadi setiap tahunnya. Kasus pencurian malah sangat jarang terjadi. Jarak rumah yang berdempetan tentu saja membuat pencuri mudah tertangkap. Hanya pencuri yang benar-benar nekat yang akan berani mencuri di pulau kecil ini. “Kalau terjadi, pasti orang luar. Kami semua bersaudara jadi mana mungkin mencuri dari saudara sendiri,” cerita Rivai. Suatu kali pernah ada pencuri yang nekat mengambil perhiasan, namun belum sampai berhasil keluar dari pulau itu, warga beramai-ramai mengejar dan menangkapnya. Setelah itu pencuri tersebut diarak keliling pulau dan dibawa ke rumah kepala desa dan diinterogasi. Ternyata, pencuri itu mengaku kalau dirinya bukan warga pulau Bungin.
Karena keterbatasan lahan pula, maka setiap warga pulau Bungin yang meninggal tidak dimakamkan di pulau tersebut namun akan dimakamkan di Tanjung Kubur yang terletak menjorok diujung pulau Sumbawa. Hanya shalat jenazah dan prosesi sebelum pemakaman yang dilakukan di pulau Bungin. Kemudian jenazah itu dibawa dengan perahu kecil menuju peristirahatan terakhirnya. Orang yang melayat pun mengantarnya dengan menggunakan perahu kecil. Sejak tahun 2003, jalan perintis mulai yang panjangnya 800 meter menghubungkan pulau Bungin dan pesisir pulau Sumbawa. Masuknya jalan membuat warga yang rumahnya dekat dengan peisisir mengantarkan jenazah hanya dengan jalan kaki.
last update: Oktober 2007

 CRESCENT MOON OVER THE SEA Sutradara: Yuli Andari Merdikaningtyas Durasi : 60 menit
Premise: Film dokumenter ini memotret pergeseran nilai-nilai tradisional oleh nilai-nilai modern dalam kehidupan sebuah keluarga nelayan di Pulau Bungin, Sumbawa, NTB.
Log Line: Dilema yang dihadapi oleh sebuah keluarga suku Bajo—pemegang pusaka para leluhur—terhadap pergesekan nilai-nilai tradisional dan modern dalam komunitas nelayan yang terus berubah. Sinopsis: Bagi Makkadia, 75 tahun, jiwa ‘orang laut’ terus melekat dalam dirinya hingga saat ini. Ia adalah keturunan kelima leluhur suku Bajo—aslinya dari Sulawesi Selatan—yang telah mendiami pulau Bungin sejak 200 tahun lalu. Sampai saat ini, Makkadia masih memegang bendera keturunan suku Bajo sebagai simbol tradisi dan eksistensi suku Bajo. Ia tidak lagi melaut. Pekerjaannya saat ini adalah tukang yang khusus memperbaiki alat-alat untuk melaut seperti lampu petromaks, tombak ikan, mesin kapal, dll. Darah pelaut yang melekat dalam dirinya rupanya menurun pada dua anak lelakinya, Khairman dan Jon, yang sehari-harinya beraktifitas sebagai nelayan tradisional. Sementara itu, dua anak lelakinya yang lain, Rifai dan Arief, mulai meninggalkan tradisi ‘orang laut’ yang telah turun-temurun ada dalam keluarga mereka. Arief, anak bungsu Makkadia, setelah tamat STM bercita-cita menjadi teknisi alat-alat elektronik. Sedangkan Rivai lebih tertarik dengan proyek-proyek pembangunan pemerintah dan NGO. Ambisi terbesarnya adalah merubah Pulau Bungin dari status desa tertinggal menjadi Bungin yang maju dan modern. Di rumah panggungnya, kini Makkadia tinggal bersama Arif Anik, anak perempuannya yang sudah berkeluarga.
Dokumenter ini terdiri kepingan cerita yang berkaitan bagai pazel dengan konflik pada masing-masing karakter. Khairman dan Jon yang harus berhadapan dengan laut yang tak lagi mendatangkan rezeki. Arif dengan kegalauannya terhadap cita-citanya setamat SMK. Makkadia dengan cintanya yang besar pada anak-anaknya, namun merasa tak berdaya untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Rifai yang berambisi menjadi kepala desa pulau Bungin dan bertekad membawa Bungin ke zaman kemajuan. Sebelumnya Rifai berhasil mendapatkan hibah dana dari lembaga donor untuk membangun jalan baru yang menghubungkan pulau Bungin dengan pulau Sumbawa. Dampak dari pembangunan jalan ini menimbulkan perubahan yang cukup signifikan pada perubahan transportasi dan persepsi masyarakat tentang nilai-nilai kemajuan yang diterima secara gagap.
Dokumenter ini adalah potret pertarungan nilai tradisional dan modern di tengah perubahan sosial yang begitu cepat. Tampak menyakitkan, namun yang kekal hanyalah perubahan.
last update: 28 Agustus 2007

 Bukan sok puitis jika saya memilih “Bulan Sabit di Tengah Laut” sebagai judul film dokumenter saya. Prosesnya berlangsung sejak 10 tahun yang lalu, ketika saya pertama kali datang ke pulau Bungin. Diawali dengan pertanyaan sederhana khas anak kelas 2 SMA. “Bagaimanakah ceritanya sampai ada orang Bajo di pulau Bungin?” tanya saya waktu itu. Pertanyaan saya akhirnya dijawab oleh salah seorang aparat desa—maaf saya lupa nama narasumber ini—pulau Bungin pada saat itu. Jawabannya adalah karena terjadinya migrasi para leluhur orang Bajo dari Selayar kearah pulau Sumbawa. Setelah itu, melalui hubungan perkawinan dan percampuran budaya antara Bajo dan Sumbawa maka terjadilah pola kehidupan yang khas di pulau Bungin.
Jawaban diatas saya tuliskan dalam artikel plus di majalah dinding SALAMANDA SMA Negeri 2 Sumbawa Besar.
Tahun 2003, saya telah kuliah di Yogyakarta dan pulang merayakan lebaran di kampung halaman. Bis yang membawa saya ke rumah melewati peisisir pantai labuhan Sumbawa. Saya terkejut melihat tanaman bakau yang tumbuh dan mulai menjulang tinggi. Padahal beberapa tahun lalu, pesisir pantai ini mengalami abrasi. Dari sela-sela pohon bakau, saya melihat pulau Bungin terapung di tengah lautan.
Saya datang kembali ke pulau Bungin. Ini kali kedua saya datang bersama seorang teman lama. Kami menumpang perahu bermotor. Kali ini misi saya lebih jelas dengan persiapan yang lebih matang. Tekad saya: membuat catatan etnografis tentang kehidupan sosial budaya orang Bajo di pulau Bungin. Berbekal tape recorder dan kaset, saya memberanikan diri mewawancarai orang-orang Bungin yang saya temui. Sampai saya menemukan satu narasumber: Akhmad Rifai.
Dari Akhmad Rifai, saya mendapat informasi bahwa pulau Bungin adalah ‘pulau yang dibangun dari tumpukan karang mati’ yang sedikit demi sedikit mengalami perluasan. Tiap tahun pulau ini mengalami perluasan sampai 2 hektar. Konon, ada peraturan adat yang mengharuskan setiap pasangan yang baru menikah menyediakan ‘lahan dari tumpukan karang’ seluas 15 x 9 meter. Ketika lebih lanjut saya menanyakan tentang sejarah Bungin, Akhmad Rifai malah menyebutkan satu narasumber kunci, yaitu ayahnya sendiri: Makkadia.
Makkadia, 70 tahun, adalah keturunan kelima Panglima Mayu, orang pertama yang menduduki pulau Bungin. Mayu berlayar bersama keluarganya dari Selayar menuju pulau Sumbawa. Misi Panglima Mayu adalah mencari adiknya telah lama berlayar. Dalam perjalanannya, ia melihat ‘kumpulan pasir putih berbentuk bulan sabit yang menyembul di tengah laut’ yang dalam bahasa Bajo disebut bubungin. Kemudian, Mayu singgah bahkan menetap di bubungin itu yang kemudian sekarang dikenal dengan bungin.
Meski luas pulau Bungin saat ini telah mencapai 8 hektar dengan populasi 2982 jiwa, namun posisi bulan sabit yang dipercaya sebagai ‘tanah awal’ di pulau ini terletak di dekat mesjid pulau Bungin. Konon, ada tiga pusaka suku Bajo yang dibawa Panglima Mayu yaitu: bendera naga suku Bajo, lontara silsilah (sekarang sudah musnah karena kebakaran total di Bungin), dan sebuah pusaka yang telah dikubur saat ia pertama kali tiba di Bungin. Untuk menghargai proses penelitian dan eksplorasi saya selama di pulau Bungin, dan juga untuk menghormati para leluhur orang Bungin, maka saya mengabadikan tanah Bungin dalam judul dokumenter saya: Crescent Moon Over The Sea.
Yogyakarta, Oktober 2007

 | Synopsis | Oct 25, '07 4:04 AM for everyone |
 Crescent Moon over the Sea By Yuli Andari Merdikaningtyas
INDONESIA. 2007. Documentary. 63 Mins. Color. Video. Bajo/Indonesia (with English subtitle)
Tahun 2003, jalan perintis dibangun untuk menghubungkan Bungin, sebuah pulau kecil yang terisolasi dengan kota yang lebih maju. Dampaknya adalah perubahan yang cukup signifikan: sarana transportasi dan persepsi masyarakat tentang nilai-nilai kemajuan. Sebuah keluarga nelayan Bajo berada dalam dilema antara meneruskan nilai-nilai tradisional atau ikut arus perubahan yang begitu cepat.
CMOS team: Yuli Andari Merdikaningtyas (director) / Opan Rinaldi (camera person) / Aline (editor) / Tonny Trimarsanto (post-production supervisor)
This documentary is developed in JAN VRIJMAN FUND - JIFFEST SCRIPT DEVELOPMENT WORKSHOP 2006.

 Begitu tau kalo script documenter-ku lolos seleksi di JIFFEST 2006, aku langsung girang. Yang terlintas di kepalaku adalah: menuju pulau Bungin, lokasi riset dan pengambilan gambar dokumenter yang akan kutempuh dengan perahu mesin kecil. Perkampungan orang Bajo yang padat dan terapung di laut. Terbayang sebuah dermaga tua yang sunyi namun sangat riuh di kala subuh. Di dermaga inilah aku akan menunggu perahu…
05.15 am, aku menuju dermaga tua dengan menumpang dokar. Sepanjang perjalanan aku tak banyak bicara dengan pak kusir. Hanya menjawab pertanyaannya tentang kemana aku akan pergi.
“Dermaga Tua Labuhan Alas. Tempat perahu mesin kecil menuju pulau Bungin,” jawabku pasti. Yakin.
Memasuki dermaga itu, dari awal memang aneh. Pintu gerbang menuju dermaga terkunci dengan gembok dan rantai yang besar dan kuat. Aneh. Ada apa dengan dermaga ini?
Subuh. Lembayung. Kerlap-kerlip perahu nelayan. Sunyi. Tak ada suara penumpang. Apalagi kapal merapat. Lalu?
“Kemana kapal-kapal menuju Bungin berlabuh?” aku mulai bertanya dan merasakan keyakinanku tadi mulai goyah. “Tak ada lagi kapal ke Bungin,” jawab pak kusir dengan santai. “Lalu saya naik apa ke Bungin?” “Naik ojek bisa. Ongkos 5000. Lewat jalan perintis.” “Hah?”
Mana mungkin ada ojek di dermaga ini. Apalagi sepagi ini. Aku melihat sekeliling dermaga tua sebelum memutuskan pergi. Pulau Bungin, pulau yang terisolasi lautan kini telah memiliki jalan perintis yang katanya ‘dapat membawa Bungin menuju pandangan luas ke depan’.
Sumbawa Besar, Mei 2007

 | Guestbook | |
 |
cvoy wrote on Aug 18, '08 joeeeeenks.....me oleh2 maumere ne... |
 | andari, membaca blog-mu membuatku merinding.. dan merindu bungin. orang-orang yang hangat dan menyenangkan.. :) makasih ya... lewat kamu, jadi bisa mengalami bungin langsung, meski cuma sehari-semalem..
|
 | hai yuli.... apa kabar? mana dvdnya? aku mauu doongg |
 | cari blog kamu susah benar...gw sudah nyasar kemana2...lu harus ke keliling ke blora atau ke daerah pesisir jawa tengah...seru loh...ke dieng gak terlalu seru...candi2nya saja yang menyenangkan.... |
 | hai pan, akhirnya lo komentar hehehe. makan-makannya ada di yogya. kapan ke Yogya? |
 | kapan acara makan2nya...euy |
 | kok gak ada acara makan2nya...pasang link ke tamboracultural.wordpress.com atuh |
 |
afagi wrote on Dec 10, '07 thx invitenya mr.oPan, great job... sukses buat kalian yah
|
 | good job friend... forzaaaa |
 | foto-fotonya juga juaraa bangettt! cucokk jadi kalender 2010! |
 | andari, kamu memang juaraaa!! |
 | andari, tulisannya bagus.... |
 | andari, jujur aku baca behind the scene nya aja udah merinding, apalagi waktu tahu cerita ini sudah ada sejak kamu sekolah sma dulu. Salut! |
 | makasih ya...seandainya kamu ada di sana... hihihi jangan mrinding dong...
|
 | fotonya bagus-bagus, andari! masih mrinding nih sampe sekarang. kalo tulisannya sih blm sempat kebaca, hehehe... . |
| |